Beberapa hari yang lalu, teman saya bercerita kata dr. Boyke, paling sedikit 56% remaja di Bandung sudah melakukan pre-marital seks. Apakah sudah separah inikah keadaan pemuda-pemudi Bandung yang katanya kota Bermartabat itu? Ini baru di Bandung saja, entah kota lain. Saya pribadi sebagai salah satu generasi pemuda Bandung merasa prihatin, apa pendidikan orang tua dan guru kita selama ini tidak berbekas sama sekali? Atau apakah sudah tergantikan dengan “pendidikan” seks yang saya pikir banyak salah tafsir. Padahal pendidikan seks juga penting hanya harus benar-benar dikaji materi dan kemasannya, karena yang selama ini saya tangkap pendidikan seks (melalui acara-acara TV) itu malahan mengajari bagaimana melakukan hal “itu” dengan aman (alias melegalkan free sex), tidak heran kalau akibatnya seperti sekarang ini. Disinilah peran orang tua dan keluarga sangat penting, karena disitulah pondasi pendidikan bermulai.

Teman saya juga cerita mengenai anak tetangga di kompleksnya yang hiperaktif akibat sering main Play Station. Akibatnya sangat berbahaya karena anak itu menjadi agresif dalam sikap dan kata-kata, dia menganggap bahwa memukul dan mengumpat itu biasa, anak itu juga tidak hormat pada orang yang lebih tua bahkan orang tuanya sendiri, dan juga sulit untuk diberi nilai-nilai positif. Bahkan tadi siang saya dengan mata kepala sendiri melihat anak SD melakukan ‘bullying’ pada teman sebaya dengan mendorong, memukul dan memakai kata kasar. Berbeda dengan anak kecil yang saya temui tadi siang juga, dia sudah berjualan kripik kasreng dari sejak kelas 5 SD sampai saat ini kelas 2 SMP untuk membantu orang tuanya membiayai kehidupan sehari-hari, selain itu anak itu sangat sopan. Dari beberapa contoh yang saya lihat maupun dari cerita, saya melihat justru anak-anak berkecukupan dan berfasilitas (alias dimanjakan) memiliki attitude yang buruk. Yang saya heran pula, orang tua mereka merasa hal ini normal saja mereka hanya bilang “Namanya juga anak-anak biasa kalo nakal.” bukannya karena mereka anak-anak justru harusnya diajari bersikap baik, karena mereka belum bisa membedakan baik dan buruk.

Ada pula cerita dari adik saya, seorang anak yang tidak lulus UAN SMA merengek ke ibunya yang seorang pengusaha kaya itu, ibunya pun mendatangi guru di sekolah tersebut dengan kondisi emosional. Yang membuat kaget adalah alasan sang ibu marah ke guru anaknya karena guru itu menolak mengubah nilai anaknya walau sang ibu bersedia membayar berapapun, bukannya menyesali mengapa dia tidak membimbing anaknya selama persiapan menghadapi UAN kemarin. Memang anak itu dimasukkan bermacam-macam les sebelumnya, tapi sang ibu tidak pernah ada di rumah karena lebih sering mengurusi usahanya di luar kota. Jadi sang ibu tidak pernah memantau perkembangan anaknya itu.

Dari fenomena di kota Bandung ini saya mengamati telah terjadi degradasi nilai secara besar-besaran, dimana nilai-nilai kehidupan telah digantikan oleh nilai materi semata. Saya cenderung menyalahkan orang tua jaman sekarang, mengapa mereka tidak mengambil contoh positif dari para pendahulunya yaitu orang tua mereka sendiri yang telah sukses mengantarkan mereka pada kesuksesan? Memang jaman sudah berubah, tapi apakah ini berarti nilai kehidupan juga harus berubah? Mungkin ada beberapa perubahan nilai positif seperti keterbukaan dalam komunikasi dan transparansi yang saat ini membuat koruptor sulit bernapas. Tapi sebagian besar perubahan yang ada adalah hal yang dulu negatif, tabu, dilarang dan dosa saat ini menjadi normal, biasa dan dibolehkan. Ada hadits yang dulu pernah saya baca (maafkan kalau saya salah) kalau suatu negara itu tergantung para alim ulama nya, nah bisa disimpulkan sendiri bagaimana keadaan kita sekarang adakah yang bisa jadi teladan?. Saya ingat pada pelajaran PPKn waktu SD atau SMP (lupa) dulu, kalau unit terkecil masyarakat yaitu keluarga adalah titik awal pembangunan masyarakat dan negara. Jadi jangan anggap remeh tugas orang tua, karena justru inilah tugas terberat-menjadi pendidik anak-anak mereka. Menjadi orang tua haruslah cerdas dan berwawasan luas baik itu dalam agama maupun kehidupan duniawi, hal ini supaya anak mereka tidak mencari-cari referensi dari luar yang belum ada jaminan mutunya. Wallahu alam.

Iklan